Rabu, 11 Mei 2011

The City's Colorful of Culture

The city’s colorful of culture, rasanya tepat untuk menggambarkan keberagaman budaya yang terdapat di kota ini, selain the spirit of java yang lebih dulu dikenal oleh banyak orang. Ada beberapa budaya, antara lain seperti upacara adat yang terkenal adalah upacara Gerebeg, upacara Sekaten, dan upacara Malam Satu Suro. Upacara yang berasal dari zaman kerajaan ini hingga sekarang terus dilaksanakan dan merupakan warisan budaya Indonesia yang harus pertahankan dan kita lindungi bersama agar anak-cucu kita bisa menikmati nya.

Gerebeg

Upacara Gerebeg diselenggarakan tiga kali dalam satu tahun dalam penanggalan Jawa, yaitu pada tanggal dua belas bulan Mulud (bulan Maret), tanggal satu bulan Syawal (bulan Oktober), dan tanggal sepuluh bulan Besar (bulan Desember). Pada hari tersebutlah sang raja mengeluarkan sedekahnya sebagai perwujudan rasa syukur kepada Tuhan YME atas kemakmuran kerajaan. Sedekah inilah yang disebut dengan Hajad Dalem, berupa pareden/ gunungan yang terdiri dari gunungan kakung dan gunungan estri (gunungan laki-laki dan gunugan perempuan). Gunungan kakung berbentuk kerucut, sebagian besar rangkaian gunungan ini terdiri dari sayuran hijau, cabai merah, telur itik, dan beberapa makanan kering lainnya. Dan disisi kanan dan kiri dipasangi bendera Indonesia dalam ukuran mini. Gunungan estri berbentuk keranjang bunga yang penuh dengan rangkaian bunga. Sebagian besar tersusun dari makanan ringan yang terbuat dari beras. Gunungan ini juga dihiasi bendera Indonesia kecil di bagian atasnya.

Sekaten

Sekaten mrupakan sebuah acara yang dilaksanakan selama tujuh hari (satuminggu). Upacara ini sebenarnya merupakan sebuah perayaan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Menurut cerita rakyat kata Sekaten berasal dari istilah assumption dalam agama Islam, Syahadatain. Sekaten dimulai dengan keluarnya dua perangkat gamelan sekati, Kyai Gunturmadu dan Kyai Guntursari, dari keratin untuk ditempatkan di depan Masjid Agung Surakarta. Selama enam hari, mulai hari ke enam sampai ke senelas bulan bulan Mulud dalam penangglan Jawa, kedua erangkat gamelan itu ditabuh untuk menandai perayaan sekaten. Dan pada hari ke tujuh upacara ditutup dengan keluarnya Gunungan Mulud.

Malam Satu Suro

Malam satu suro dalam masyarakat Jawa adalah suatu perayaan tahun baru menurut penanggalan Jawa. Malam satu suro jatuh mulai terbenam matahari pada hari terakhir bulan terakhir kalender Jawa (30/29 Besar) sampai terbitnya matahari pada hari pertama bulan pertama tahun berikutnya (1 Suro). Di Keraton Surakarta upacara ini diperingati dengan Kirab Mubeng Beteng (Perarakan Mengelilingi Benteng Keraton). Upacara ini biasanya dimulai dari kompleks Kemandungan utara melalui gerbang Brojonolo kemudian mengitari seluruh kawasan keraton dengan arah berkebalikan arah putaran jarum jam dan berakhir di halaman Kemandungan utara. Dalam prosesi ini pusaka keraton menjadi bagian utama dan diposisikan di barisan depan kemudian baru diikuti para pembesar keraton, para pegawai dan akhirnya masyarakat. Suatu yang unik adalah dibarisan terdepan ditempatkan pusaka yang berupa sekawanan kerbau albino yang diberi nama Kyai Slamet yang selalu menjadi pusat perhatian masyarakat.

Keraton

Selain budaya, di kota Solo juga terdapat bangunan Keraton Surakarta. Keraton Surakarta atau dalam bahasa Jawa disebut Karaton Surakarta Hadiningrat, merupakan bekas Istana Kerajaan Kasunanan Surakarta Hadiningrat (1755-1946). Keraton ini didirikan oleh Susuhunan Pakubuwono II (Sunan PB II) pada tahun 1744 sebagai pengganti Istana/ Keraton Kartasura yang porak-poranda akibat Geger Pecinan 1743. Istana terakhir Kerajaan Mataram didirikan di desa Sala (Solo), sebuah pelabuhan kecil di tepi barat Bengawan (sungai) Beton/Sala. Setelah resmi istana Kerajaan Mataram selesai dibangun, nama desa itu diubah menjadi Surakarta Hadiningrat. Istana ini pula menjadi saksi bisu penyerahan kedaulatan Kerajaan Mataram oleh Sunan PB II kepada VOC di tahun 1749.Setelah Perjanjian Giyanti tahun 1755, keraton ini kemudian dijadikan istana resmi bagi Kasunanan Surakarta sampai dengan tahun 1946, ketika Pemerintah Indonesia secara resmi menghapus Kasunanan Surakarta dan menjadikannya sebuah karesidenan langsung di bawah Presiden Indonesia. Keraton (Istana) Surakarta merupakan salah satu bangunan yang eksotis di zamannya. Salah satu arsitek istana ini adalah Pangeran Mangkubumi (kelak bergelar Sultan Hamengkubuwono I) yang juga menjadi arsitek utama Keraton Yogyakarta. Oleh karena itu tidaklah mengherankan jika pola dasar tata ruang kedua keraton tersebut (Yogyakarta dan Surakarta) banyak memiliki persamaan umum. Keraton Surakarta sebagaimana yang dapat disaksikan sekarang ini tidaklah dibangun serentak pada 1744-45, namun dibangun secara bertahap dengan mempertahankan pola dasar tata ruang yang tetap sama dengan awalnya. Pembangunan dan restorasi secara besar-besaran terakhir dilakukan oleh Susuhunan Pakubuwono X (Sunan PB X) yang bertahta 1893-1939. Sebagian besar keraton ini bernuansa warna putih dan biru dengan arsitekrur gaya campuran Jawa-Eropa.

Secara umum pembagian keraton meliputi: Kompleks Alun-alun Lor/Utara, Kompleks Sasana Sumewa, Kompleks Sitihinggil Lor/Utara, Kompleks Kamandungan Lor/Utara, Kompleks Sri Manganti, Kompleks Kedhaton, Kompleks Kamagangan, Kompleks Srimanganti Kidul/Selatan (?) dan Kemandungan Kidul/Selatan, serta Kompleks Sitihinggil Kidul dan Alun-alun Kidul. Kompleks keraton ini juga dikelilingi dengan baluwarti, sebuah dinding pertahanan dengan tinggi sekitar tiga sampai lima beat dan tebal sekitar satu beat tanpa anjungan. Dinding ini melingkungi sebuah daerah dengan bentuk persegi panjang. Daerah itu berukuran lebar sekitar lima ratus beat dan panjang sekitar tujuh ratus meter. Kompleks keraton yang berada di dalam dinding adalah dari Kemandungan Lor/Utara sampai Kemandungan Kidul/Selatan. Kedua kompleks Sitihinggil dan Alun-alun tidak dilingkungi tembok pertahanan ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar